Pelestarian Adat Jadi Fondasi Pembangunan, DPRD Kutai Barat Apresiasi Ritual Penutup Festival Dahau
Salah satu prosesi ritual adat (Ist)

Pelestarian Adat Jadi Fondasi Pembangunan, DPRD Kutai Barat Apresiasi Ritual Penutup Festival Dahau

Oleh M. Nur • 07 November 2025

Advetorial DPRD Kutai Barat

Kutai Barat — Pelaksanaan ritual adat Beliant Bekelew dan Geratuq sebagai puncak penutupan Festival Dahau 2025 mendapat apresiasi tinggi dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Barat.


Upacara adat yang digelar di Taman Budaya Sendawar, Jumat (7/11/2025), dinilai bukan hanya kegiatan budaya, melainkan juga ekspresi nilai luhur yang sejalan dengan semangat pembangunan daerah berbasis kearifan lokal. Ketua DPRD Kutai Barat, Ridwai SH, menyebutkan bahwa keberadaan adat dan budaya lokal memiliki peran strategis dalam memperkuat karakter pembangunan daerah.
 

Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan tidak cukup hanya mengedepankan infrastruktur, tetapi juga harus menyatu dengan nilai sosial dan spiritual masyarakat.

 

“Bagi kami, adat bukan sekadar simbol masa lalu. Ia adalah identitas dan jiwa masyarakat Kutai Barat yang harus dihidupkan dalam setiap arah kebijakan pembangunan,” ujar Ridwai.

 

Ridwai menilai, kegiatan adat seperti Beliant Bekelew dan Geratuq memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat. Selain sebagai warisan leluhur, ritual ini juga mencerminkan rasa syukur, kebersamaan, dan doa agar Kutai Barat senantiasa dilindungi dari berbagai bencana

 

“Ritual ini menggambarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Nilai-nilai inilah yang sebenarnya menjadi dasar dari pembangunan sosial dan spiritual masyarakat kita,” tambahnya.

 

DPRD Kutai Barat, kata Ridwai, mendukung penuh penyelenggaraan festival dan kegiatan adat seperti Dahau karena terbukti memberi dampak luas—bukan hanya bagi pelestarian budaya, tetapi juga bagi penguatan ekonomi kreatif masyarakat adat.

 

“Festival budaya seperti Dahau harus menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat adat dan pelaku ekonomi lokal. Melalui kebijakan dan dukungan anggaran yang tepat, DPRD berkomitmen untuk menjadikan pelestarian budaya sebagai bagian integral dari strategi pembangunan ekonomi daerah,” tegasnya.

 

Ia juga menyoroti pentingnya peran bersama antara pemerintah daerah, lembaga adat, dan masyarakat dalam memastikan keberlangsungan tradisi di tengah arus modernisasi. Menurutnya, pembangunan tanpa nilai budaya akan kehilangan arah dan makna.

 

“Gotong royong, rasa hormat, dan kebersamaan yang kita lihat dalam setiap upacara adat harus menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Itulah filosofi yang sesungguhnya dari pembangunan beradab,” ungkapnya.

 

Ritual adat penutup Festival Dahau tersebut diikuti oleh tokoh adat, masyarakat, serta jajaran Forkopimda. Prosesi Beliant Bekelew ditandai dengan penyucian wilayah melalui penyembelihan kerbau dan penanaman blontang sebagai simbol penjaga keseimbangan.
 

Sementara ritual Geratuq menjadi simbol harmoni dan kesejahteraan warga, ditutup dengan prosesi tepung tawar dan pembagian lalus adat.

 

Ridwai menegaskan, DPRD Kutai Barat akan terus mengawal kebijakan pembangunan yang berorientasi pada nilai kultural dan kesejahteraan sosial.

 

“Kita ingin memastikan pembangunan Kutai Barat tidak kehilangan ruhnya. Adat dan budaya bukan hanya kebanggaan, tetapi juga kekuatan moral dan sosial yang telah menjaga Kutai Barat selama 26 tahun,” pungkasnya.

👁️ 577 kali dibaca

Tinggalkan Komentar

Memuat cuaca berdasarkan lokasi Anda...

Logo Portal