Pemkab Kutim Genjot Kesejahteraan Petani Lewat Pola Tanam Cabai Berbasis Kebutuhan Pasar
Kepala Bidang Hortikultura DTPHP Kutim, Wahyudi Noor

Pemkab Kutim Genjot Kesejahteraan Petani Lewat Pola Tanam Cabai Berbasis Kebutuhan Pasar

Oleh Bahroni • 22 November 2025

Advertorial Diskominfo Kutim

SANGATTA – Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam meningkatkan kesejahteraan petani terus diperkuat melalui pengembangan pola tanam cabai yang lebih terukur. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim kini menerapkan manajemen tanam berjenjang untuk memastikan hasil panen selaras dengan puncak permintaan pasar.

 

Kepala Bidang Hortikultura DTPHP Kutim, Wahyudi Noor, mengatakan pola ini disusun setelah melihat tren permintaan cabai yang melonjak pada momen tertentu setiap tahunnya. Lonjakan itu terutama terjadi pada Ramadan, Idulfitri, Iduladha, Maulid Nabi, hingga Natal dan Tahun Baru. Menurutnya, momentum tersebut dapat menjadi peluang peningkatan pendapatan apabila jadwal tanam dirancang dengan tepat.

 

“Permintaan paling tinggi itu di Ramadan dan Idulfitri, kemudian Iduladha, Maulid, hingga Natal dan Tahun Baru,” jelas Wahyudi.

 

Untuk memaksimalkan peluang itu, DTPHP Kutim menerapkan pola tanam dengan siklus tiga bulanan. Sistem ini memungkinkan petani memanen cabai pada periode yang mendekati kenaikan kebutuhan pasar. Dengan demikian, produksi dapat berlangsung lebih stabil dan tidak serempak sehingga harga tetap terjaga.

 

Penerapan program dimulai pada 2023 dan langsung mendapatkan respons positif dari petani. Pemerintah daerah turut memberikan dukungan berupa fasilitasi pengolahan lahan serta penyediaan bibit unggul yang disalurkan setelah lahan siap ditanami. Metode ini membuat proses tanam lebih efisien sekaligus meningkatkan kualitas hasil panen.

 

Melalui pola tanam berjenjang tersebut, panen pertama berlangsung tiga bulan setelah penanaman, kemudian disusul panen raya pada bulan berikutnya. Hasilnya, produksi meningkat konsisten dan pendapatan petani mengalami kenaikan signifikan. Pada puncak permintaan seperti Lebaran 2025, harga cabai di tingkat petani bahkan menembus Rp100.000 per kilogram, sementara di pasar mencapai Rp190.000.

 

Wahyudi menegaskan bahwa strategi ini bukan hanya menjamin ketersediaan cabai, tetapi juga memastikan petani lokal merasakan manfaat harga tinggi. “Dengan pola tanam ini, yang menikmati harga tinggi itu petani kita, bukan pasokan dari luar daerah,” tegasnya. (Adv)

👁️ 396 kali dibaca

Tinggalkan Komentar

Memuat cuaca berdasarkan lokasi Anda...

Logo Portal